Isnin, 26 Februari 2018
Tafsir Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab
Tafsir
Tafsir Al Ahzab 36: Maksiat, Sesat dan Diancam Azab
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata (TQS al-Ahzab [33]: 36).
Pengakuan menjadi Muslim, meniscayakan sejumlah konsekuensi. Di antaranya adalah kewajiban mengikuti semua keputusan Allah Swt dan Rasul-Nya. Tidak boleh memiliki pilihan lain dalam perkara yang telah diputuskan-Nya. Sengaja memilih pilihan lain, berarti telah berbuat durhaka terhadap keduanya. Dan tentu saja, itu tidak layak dilakukan seseorang yang mengaku dirinya Muslim dan Muslimah. Lebih jelasnya, dapat disimak penjelasan berikut yang mengurai QS al-Ahzab [33]: 36.
Wajib Mengikuti Keputusan Allah Swt dan Rasul-Nya
Allah Swt berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak [pula] bagi perempuan yang mukmin
Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab binti Jahsy; anak bibinya, Umaimah binti Abdul Muthallib. Ketika itu Rasulullah saw melamarnya untuk dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah, mantan budaknya. Akan tetapi, lamaran tersebut ditolaknya. Sikap ini juga didukung oleh saudaranya, Abdullah bin Jahsy. Tak lama kemudian, turunlah ayat ini. Mendengar ayat ini turun, Zainab pun berbalik sikap. Wanita Quraisy itu ridha menerima lamaran tersebut dan bersedia menikah dengan Zaid bin Haritsah. Demikian menurut Ibnu Jarir al-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Katsir, dan kebanyakan mufassir lain.
Dijelaskan al-Alusi, frasa mâ kâna limu’min[in] wa lâ mu’minat[in] dalam ayat ini bermakna mâ shahha wa mâ [i]staqâma (tidak sah dan tidak lurus) bagi Mukmin laki-laki maupun perempuan. Ditambahkan al-Syaukani, kata mâ kâna, mâ yanbaghî, dan semacamnya bermakna al-man’u wa al-hazhr min al-syay’ (larangan terhadap sesuatu). Bentuk ikhbar tersebut menunjukkan bahwa perkara tersebut tidak halal secara syar’i.
Sedangkan lafadz mu’min wa lâ mu’minah yang berbentuk nakirah dalam kalimat nafi (negatif), memberikan makna umum. Sehingga, ketentuan tersebut berlaku umum, mencakup seluruh kaum Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini dikuatkan dengan dua dhamîr (kata ganti) sesudahnya yang menggunakan dhamîr hum (kata ganti pihak ketiga jamak; mereka), yakni kata lahum (bagi mereka) dan amrihim (urusan mereka).
Adapun perkara yang dilarang bagi mereka, disebutkan dalam frasa berikutnya:
إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
Apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka
Pengertian qadhâ dalam ayat ini adalah hakama (memutuskan). Kata amr[an] mencakup semua perkara. Sedangkan al-khiyarah merupakan bentuk mashdar dari kata takhyîr, yang berarti al-ikhtiyâr (pilihan). Sehingga pengertian ayat ini –sebagaimana dijelaskan al-Syaukani– adalah: Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah ketika ada sesuatu yang telah diputuskan oleh-Nya, dia memilih perkara lain yang disukainya. Akan tetapi, wajib baginya patuh kepada keputusan Allah dan menundukkan dirinya di bawah keputusan-Nya dan memilih keputusan tersebut untuknya.
Bahwa tidak ada pilihan bagi seorang Muslim kecuali harus mengikuti ketetapan yang telah diputuskan Allah Swt juga disebutkan dalam firman-Nya:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka (TQS al-Qashash [28]: 68).
Ibnu Katsir juga menegaskan, ayat ini berlaku untuk seluruh perkara. Apabila Allah Swt dan Rasul-Nya saw telah memutuskan tentang sesuatu, maka tidak ada seorang pun yang boleh menyalahinya. Dalam hal ini, tidak ada pilihan, baik dalam pendapat maupun ucapan, sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Nisa;’ [4]: 65). Juga Hadits Nabi saw:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ [حَديثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ وَرَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّة بإسنادٍ صحيحٍ ]
Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (HR al-Nawawi dalam al-Arba’în).
Hal lain yang bisa diambil dari ayat ini adalah kesetaraan kaum Muslim dalam pernikahan. Dijelaskan al-Qurthubi, ayat ini juga menjadi dalil bahwa keharusan sekufu (dalam pernikahan) dalam hal keturunan tidak dianggap. Menurutnya, yang bisa dianggap hanyalah sekufu dalam hal agama. Buktinya, banyak pernikahan budak terjadi di kalangan Quraisy, seperti Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy, al-Miqdad bin al-Aswad dengan Dhabi’ah binti Zubair, Bilal dengan saudara perempuan Abdurrahman bin ‘Aiuf, dan lain-lain.
Hukuman Bagi Pembangkang
Kewajiban mengikuti keputusan Allah Swt dan Rasul-Nya kian jelas dengan kelanjutan ayat ini:
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Dan barang ‘siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya
Menurut al-Raghib al-Asfahani, bisa dikatakan ‘ashâ ‘ishyân[an] apabila kharaja ‘an al-thâ’ah (keluar dari ketaatan). Dengan demikian, frasa man ya’shil-Lâh wa Rasûlahu berarti orang-orang yang membangkang dan tidak taat terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya.
Orang-orang yang berbuat demikian, dinyatakan:
فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata
Dijelaskan al-Raghib, kata al-dhalâl berarti al-‘udûl ‘an al-tharîq al-mustaqîm (berpaling dari jalan yang lurus). Bahkan kata tersebut juga dapat digunakan untuk menunjuk setiap penyimpangan dari jalan yang lurus, baik yang disengaja maupun tidak, besar maupun kecil. Namun ketika ditambahkan bentuk masdar dhalâl[an] yang berguna sebagai ta’kîd (penegasan), menunjukkan bahwa kesesatan tersebut merupakan kesesatan yang besar. Lebih-lebih ketika ditambahkan kata mubîn[an] yang berarti lâ khifâ’an (tidak tersembunyi).
Hal ini memberikan pengertian, siapa pun yang membangkang dan durhaka terhadap Allah Swt dan Rasul-Nya, maka dia benar-benar telah tersesat dengan kesesatan yang nyata, jelas, dan tidak samar. Menurut al-Biqa’i, dikaitkannya perintah tersebut dengan keimanan, menunjukkan bahwa barangsiapa yang berpaling (dari perintah-Nya), maka sesungguhnya dia bukanlah seorang Mukmin meskipun dia menampakkan keimanan dengan lisannya.
Dijelaskan Abdurrahman al-Sa’di dalam tafsirnya, disebut sebagai kesesatan yang nyata karena pelakunya telah meninggalkan jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kemuliaan Allah, menuju jalan-jalan lain, yang mengantarkan pelakunya kepada azab yang pedih.
Sebagaimana layaknya kesesatan, maka pelakunya diancam dengan azab yang mengerikan. Pelakunya dimasukkan ke dalam neraka dan mendapatkan siksa yang menghinakan (lihat QS al-Nisa’ [4]: 14). Allah Swt juga berfirman:
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا
Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya (TQS al-Jin [72]: 23).
Penjelasan ayat-ayat di atas amat gamblang. Tidak ada yang samar dan multitafsir. Maka, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menolak syariah. Penolakan terhadap syariah –seluruhnya atau sebagian– hanya akan menyebabkan pelakunya tergelincir kepada kesesatan dan azab yang pedih. Wahai wahai kaum Mukminin, bersegaralah memenuhi panggilan Allah Swt dan Rasul-Nya untuk menegakkan syariah-Nya di muka bumi. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
*Ikhtisar:*
1. Seorang Mukmin wajib mengikuti semua ketetapan syariah, tanpa kecuali
2. Sikap membangkang terhadap syariah-Nya, merupakan kesesatan yang nyata
3. Membangkang dan durhaka kepada Allah dan rasul-Nya menyebabkan pelakunya mendapatkan siksa yang pedih.
Oleh: KH. Rokhmat S. Labib, M.E.I.
Selasa, 30 Januari 2018
DASAR-DASAR TAUHID: MENGENAL ALLAH

Definisi dan Urgensi Makrifat
Salah satu unsur terpenting dari keimanan adalah makrifat (mengenal) terhadap semua hal yang berkaitan dengan aqidah (keimanan). Misalnya, makrifat kepada Allah, Rasulullah saw, malaikat, Nabi dan Rasul, hari akhir, qadla qadar, dan lain sebagainya.
Secara bahasa, makrifat bermakna mengenal dan mengetahui (‘ilm). Namun, yang dimaksud dengan makrifat dalam konteks pembahasan ‘aqidah adalah pembenaran (tashdiq) yang bersifat pasti terhadap suatu perkara.
Menurut Imam Abu Hanifah dan mayoritas ulama fikih, makrifat adalah “i’tiqaad al-jaazim” (keyakinan pasti), sama saja apakah keyakinan itu diperoleh dengan jalan taqlid (i’tiqaad taqliidiyyan) maupun dari ilmu (keyakinan) yang bersumber dari dalil. Dan mayoritas di antara mereka menghukumi muqallid (dalam hal iman) sebagai seorang Muslim. Sebagian lagi mengartikan makrifat dengan ilmu (keyakinan) yang lahir dari istidlaal (penalaran terhadap dalil). [1]
Di dalam Kitab al-Ta’riifaat disebutkan, “al-‘ilmu adalah I’tiqaad al-jaazim al-muthaabiq li al-waaqi’ (ilmu (keyakinan) adalah keyakinan pasti yang sejalan dengan realitas)”…Ada pula yang mendefinisikan ilmu dengan memahami hakekat yang terkandung di dalam sesuatu”. Ada pula yang mengartikannya dengan hilangnya kesamaran dari sesuatu yang hendak diketahui; dan lawannya adalah al-jahlu (kebodohan)”.[2]
Imam al-Jurjani di dalam kitab al-Ta’rifaat menyatakan, “Secara literal, iman adalah tashdiiq al-qalb (pembenaran dalam hati). Sedangkan menurut syariat, iman adalah al-i’tiqaad bi al-qalb wa al-iqraar bi al-lisaan (keyakinan dalam hati dan diucapkan dengan lisan)”.[3]
Keimanan tidak akan mungkin terbentuk secara sempurna di dalam diri seseorang sebelum ia makrifat terhadap apa yang diyakininya itu. Atas dasar itu, makrifat terhadap perkara-perkara yang wajib diimani merupakan syarat sempurnanya iman. Atas dasar itu, para ulama mendefinisikan iman (aqidah) dengan pembenaran yang bersifat pasti. Perhatikan pendapat-pendapat ulama berikut ini mengenai definisi iman.
Di dalam Kitab al-Wajiz fii ‘Aqiidah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaa’ah dinyatakan, “Secara istilah, aqidah adalah perkara-perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan menentramkan jiwa, sehingga perkara-perkara tersebut menjadi sebuah keyakinan yang tidak disusupi oleh keraguan dan bercampur dengan persangkaan (al-syakk). Dengan kata lain, ‘aqidah adalah keimanan pasti (al-iiman al-jaazim) yang tidak dihinggapi keraguan pada diri orang yang menyakininya; dan ia harus sesuai dengan kenyataan, tidak mengandung keraguan dan persangkaan. Dan jika sebuah keyakinan tidak mencapai taraf al-iiman al-jaazim (iman yang pasti), maka perkara itu tidak dinamakan dengan aqidah. Disebut ‘aqidah karena, manusia akan mengikatkan hatinya kepada perkara tersebut (aqidah)”[4].
Prof Mahmud Syaltut menyatakan, “Aqidah adalah sudut pandang yang harus diimani pertama kali, sebelum mengimani yang lain, dengan keimanan yang tidak disusupi keraguan, dan tidak dipengaruhi oleh kesamaran. Secara tabi’iy, ‘aqidah ditetapkan berdasarkan nash-nash yang jelas (qath’iy) yang jumlahnya sangat banyak (mutawatir)..”.[5]
Makrifat Kepada Allah
Makrifat kepada Allah, adalah membenarkan secara pasti (tashdiiq al-jaazim) terhadap Wujud (Eksistensi), Dzat, Shifat, dan Nama-namaNya. Setiap Mukmin wajib menyakini (membenarnya secara pasti) bahwa Allah swt adalah Esa, Hidup, Mendengar, Melihat, Mengetahui, Mutakallim (Berfirman), dan semua Shifat Allah yang terdapat di dalam al-Quran maupun hadits-hadits mutawatir.
Berikut ini adalah pokok-pokok keimanan (makrifat) kepada Allah swt.
Beriman Kepada Wujudnya Allah (Eksistensi)
Wujud Allah bisa dibuktikan berdasarkan akal. Bukti akal yang menunjukkan eksistensi Allah swt adalah penciptaan alam semesta, manusia, dan kehidupan. Adanya makhluk, yang berujud alam semesta, kehidupan, dan manusia menunjukkan secara pasti keberadaan Sang Pencipta, yakni Allah swt. Pasalnya, sesuatu yang tercipta (makhluk) tidak mungkin tercipta dengan sendirinya, atau kebetulan ada, tanpa keberadaan Sang Pencipta. Atas dasar itu, keberadaan Sang Pencipta merupakan keniscayaan bagi adanya makhluk (yang diciptakan).
Adanya makhluk dengan aturan-aturannya yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait, dan begitu kompleks menunjukkan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan ciptaan dari Sang Khaliq. Kenyataan ini juga memustahilkan anggapan bahwa alam semesta ini tercipta secara kebetulan, tanpa membutuhkan Sang Pencipta (Allah swt). Jika makhluk tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.
Di dalam al-Quran, Allah SWTtelah menyitir masalah penciptaan ini di dalam firmanNya:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” ( QS. Ath-thur : 35).
Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah I.
Beriman Kepada Rububiyah Allah
Beriman kepada Rububiyah Allah maksudnya adalah, beriman sepenuhnya bahwa Dialah Robb satu-satunya, tiada sekutu dan tiada penolong bagiNya; dan Dialah Dzat yang berhak menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah dari-Nya. Allah SWTtelah berfirman yang artinya :
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. Al-A’raf : 54).
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ
“…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Robbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir : 13).
Hanya orang-orang sombong dan congkak saja yang tidak pernah mengimani Kerububiyahan Allah I; seperti yang dilakukan fir’aun ketika berkata kepada kaumnya : “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” ( QS. An-Naziat : 24), dan juga ketika berkata : “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” ( QS. Al-Qashash : 38)
Allah SWTberfirman yang artinya :
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
“Dan mereka mengingkarinya karena kezdaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (QS. An-Naml : 14).
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَؤُلاء إِلاَّ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لأَظُنُّكَ يَا فِرْعَونُ مَثْبُورًا
“Nabi Musa berkata kepada Fir’aun: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Robb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra’ : 102).
Oleh karena itu, menurut ulama tauhid, orang-orang musyrik sebenarnya mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukanNya dalam uluhiyah (peribadahan).
Allah SWT berfirman, artinya;
“Katakanlah : Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? “Mereka akan menjawab : “kepunyan Allah”. Katakanlah : “siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?” mereka menjawab : “kepunyaan Allah.” Katakanlah : “Maka apakah kamu tidak bertakwa? “Katakanlah : “Siapakah yang di tanganNya berada kekusaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?” mereka akan menjawab : “kepunyaan Allah.” Katakanlah : “(kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” ( QS. Al-Mu’minun : 84-89).
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab, “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Az-Zukhruf : 9).
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka menjawab : “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf : 87).
Sedangkan Perintah Allah SWT mencakup perintah atas alam semesta (kauni) dan perintah atas syariat. Artinya, Dialah Allah, Dzat Pengatur alam, sekaligus sebagai Pemutus seluruh perkara sesuai dengan tuntutan hikmahNya. Dia juga Pemutus peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmahNya. Oleh karena itu, siapa saja yang menyakini bahwa Allah memiliki sekutu dalam hal memutuskan aturan ibadah dan muamalat, berarti, ia berarti telah menyekutukan Allah dan tidak beriman kepadaNya.
Beriman Kepada Uluhiyah Allah SWT.
Tauhid belum sempurna dengan sekedar pengakuan atas tauhid rububiyyah dan asma’ wa shifat. Sebab, kedua tauhid ini dapat dianggap sebagai sekedar teori tauhid. Agar ‘tauhid teoritis’ ini menjadi sempurna, ia harus melibatkan tujuan dan sasaran dari tauhid, yakni penyembahan hanya kepada Allah swt.[6] Ketika menjelaskan tauhid uluhiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Tidak ada kebahagian, dan keselamatan bagi seorang hamba kecuali selalu mengikuti Rasulullah saw. Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, ia akan dimasukkan ke surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Yang demikian itu adalah kemenangan yang sangat agung. Akan tetapi, siapa saja yang maksiyat kepada Allah dan RasulNya dan melanggar ketetapan-ketetapan Allah, maka ia akan dimasukkan ke neraka. Ia akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluq agar mereka menyembah (beribadah) kepadaNya. Allah swt berfirman, artinya, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [al-Dzariyat:56] Bentuk ibadah mereka kepada Allah adalah dengan cara mentaati Allah dan RasulNya. Tidak ada ibadah kecuali apa yang telah diwajibkan dan diridloi oleh agama Allah.[7]
Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Mekah pada masa Nabi saw mempercayai ketuhanan Allah sebagai Pencipta sekaligus mempercayai pula berbagai sifat-sifatNya. Namun demikian, mereka tetap disebut sebagai orang musrik. Allah swt berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab,”Allah”. Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan dari jalan yang benar.”[al-‘Ankabuut:61] “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab,”Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.”[al-‘Ankabut:63].
Ibadah dalam Islam bermakna penyerahan diri kepada Allah yang diwujudkan melalui kepatuhan pada hukum-hukum Allah swt[8]. Berpegang teguh atau lebih mengutamakan hukum-hukum buatan manusia lebih dari hukum Allah merupakan kesyirikan dalam tauhid al-‘ibadah. Allah telah berfirman di dalam al-Quran, artinya, “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”[al-An’am:57] “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir.”[al-Maidah 44]
Ketika Rasulullah saw membacakan ayat al-Quran, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”[at-Taubah 31], Adiy bin Hatim menyatakan bahwa (orang-orang Yahudi dan Nashrani) tidak menyembah kepada rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka, akan tetapi mereka juga menyembah kepada Allah. Pernyataan ini ditangkis Rasulullah saw dengan pernyataan beliau, “Akan tetapi rahib-rahib dan pendeta itu telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, kemudian mereka mengikutinya.”[9] Ini menunjukkan bahwa, sekedar menyakini Allah swt dari sisi rububiyyah dan asma’ wa shifat, tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari kekafiran, sampai ia mengesakan Allah dalam hal penyembahan (tauhid uluhiyyah); dengan jalan menyakini bahwa hukum Allah adalah satu-satunya hukum yang berhak ditaati dan diikuti.
Atas dasar itu, menyakini bahwa hukum Allah swt sebagai satu-satunya hukum yang berhak mengatur kehidupan manusia, merupakan refleksi dari tauhid uluhiyyah. Seorang muslim harus menyakini bahwa hukum-hukum Allah (syari’at Allah), satu-satunya hukum terbaik yang mampu memecahkan seluruh problematika umat manusia. Ia tidak boleh menyakini aturan-aturan lain selain aturan Allah yang mampu menyaingi atau setingkat levelnya dengan aturan Allah swt. [10]
Seorang mukmin wajib menjunjung tinggi al-Quran dan Sunnah. Ia hanya akan berhukum dengan aturan-aturan Allah swt. Sebab, berhukum kepada al-Quran dan Sunnah adalah kewajiban mendasar seorang muslim, sekaligus refleksi pentauhidan kepada Allah swt dari sisi uluhiyyah. Al-Quran telah menyampaikan pesan penting ini di beberapa tempat; salah satunya di dalam surat An Nisaa’:60-61. Allah swt berfirman, artinya;
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”{al-Nisaa’:60-61]
Ayat ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa keimanan kepada Allah swt mengharuskan seseorang untuk hanya beribadah sesuai dengan aturan-aturan Allah. Dengan kata lain, seorang Mukmin wajib menyakini bahwa Allahlah satu-satunya Dzat yang berhak menetapkan hukum untuk mengatur kehidupan manusia.
Beriman kepada Asma’ dan sifat Allah
Tauhid Asma’ wa Shifat merupakan keyakinan bahwa Allah memiliki nama dan sifat, yang dengan nama dan sifatNya itu, Ia atau Nabi saw melukiskan keadaan diriNya.[11] Imam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Allah swt mensifati DiriNya dengan sifat yang telah disifatkan oleh DiriNya sendiri, atau disifatkan oleh Rasulullah saw, serta para generasi awal Islam yang tidak melebihi batas al-Quran dan Sunnah.[12] Nama dan Sifat Allah ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut ini; “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.[Thaha:5] “Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya `Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu.”[al-Zukhruf:82] “Dan Dia-lah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”[al-Zukhruf:84-85]
Nama dan Sifat Allah tidaklah serupa dengan sifat dan nama makhlukNya. Dalam hal ini Allah swt telah memberi rambu-rambu kepada umatNya ketika hendak memahami sifat dan nama Allah, dengan firmanNya;
فَاطِرُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat“.[al-Syura:11]. Demikianlah, Allah swt memiliki nama dan sifat.
Atas dasar itu, iman kepada Nama-nama dan Sifat-sifat Allah I, yakni, membenarkan secara pasti Nama-nama dan Sifat-sifat Allah swt yang telah ditetapkan di dalam Al-Quran dan Sunnah, tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (peniadaan), takyif (menanyakan bagaimana?), dan tamsil (menyerupakan).
Allah SWTberfirman, yang artinya :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan..” ( QS. Al-A’raf : 180).
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( QS. An-Nahl : 60).
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“… tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” ( QS. Asy-syura : 11).
Inilah pokok-pokok makrifatullah (makrifat kepada Allah) yang harus dipahami dan dibenarkan secara pasti oleh seorang Muslim. Hanya saja, dalam makrifat kepada Allah ini, seorang Mukmin harus memperhatikan hal-hal berikut ini;
Sesungguhnya, cara untuk makrifat (tashdiiq all-jaazim) kepada Allah swt harus didasarkan pada dalil (bukti) yang bersifat qath’iy, baik dengan bukti-bukti yang bersifat inderawi (wujud Allah), dan bukti-bukti simaa’iy (naqliy) (Nama dan Shifat Allah, Ibadah, dan lain sebagainya). Makrifat kepada Allah tidak boleh didasarkan pada dalil dzanniy, maupun berfikir filsafat.
Penetapan Shifat dan Nama Allah harus dipisahkan, atau tidak boleh dianalogkan dengan shifat dan nama makhlukNya. Sebab, Allah swt berbeda dengan makhlukNya, sehingga menafikan adanya analogi antara Allah dengan makhlukNya. Analog inilah yang menyebabkan adanya upaya-upaya ta’thil (meniadakan), tasybih (memiripkan), dan tahriif (penyimpangan) atas Nama dan Shifat Allah swt. Padahal, hal ini jelas-jelas tidak diperbolehkan di dalam Islam.
Jika tidak ada dalil-dalil qath’iy yang menjelaskan secara rinci mengenai Shifat, Nama, dan Perbuatan Allah, maka kita harus mencukupkan diri pada makna-makna globalnya, dan tidak boleh merincinya lebih lanjut.
Jika tiga unsur di atas telah tercapai, maka seorang Mukmin wajib membenarkan secara pasti (tashdiiq al-jaazim) terhadap perkara-perkara itu, kemudian merefleksikan keimanannya kepada Allah dengan jalan menjalankan seluruh perintahNya, dan menjauhi semua laranganNya. Wallahu A’lam bi al-Shawab.
Oleh: Ust Syamsuddin Ramadhan
[1] Imam Fakhruddin al-Raaziy, Mafaatih al-Ghaib, juz 1, 290-294
[2] Imam al-Jurjaniy, al-Ta’riifaat, juz 1, hal. 49
[3] Imam al-Jurjaniy, al-Ta’rifaat, juz 1, hal. 12
[4] ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid al-Atsariy, Al-Wajiiz fii ‘Aqiidah Salaf al-Shaalih, juz 1, hal. 11-13
[5] Prof Mahmud Syaltut, al-Islaam, ‘Aqiidah wa Syarii’ah, hal. 12.
[6] Op.cit, hal.228.
[7] Imam Ibnu Taimiyyah, Majmuu’ al-Fatawa, juz I/42, pada bab Tauhid Uluhiyyah, Daar al-Kutub al-‘Imiyyah.
[8] Abu Ameenah Bilal, Menolak Tafsir Bid’ah, PT. Andalus Press, Surabaya, hal.235
[9] Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir.
[10] Lihat, Dr. Mohammad Husain ‘Abdullah, Dirasaat fi al-Fikr al-Islaamiy
[11] Abu Ameenah Bilal, Menolak Tafsir Bid’ah, PT. Andalus Press, Surabaya, hal.208.
[12] Imam Ibnu Taimiyyah, Majmuu’ al-Fatawa, juz III/16, Daar al-Kutub al-‘Imiyyah.
Khamis, 3 Ogos 2017
Benarkah tiada siapa yang dapat mengenali Aku,walaupun wali, nabi atau rasulnya yang terdekat sekalipun?
Tidak siapapun yang dapat mengenal Allah, walaupun wali, nabi atau rasulnya yang terdekat sekalipun, benarkah begitu?, sehingga ada yang berkata hanya Allah mengenal Allah, jikalau hanya Allah yang mengenal Allah, jadi wali, nabi dan rasul itu siapa pula?
============================
Ada yang berkata, tidak siapapun dapat menyembah Allah dengan sempurna, sebab yang sempurna itu hanya Allah menyembah Allah, sehingga dikatakan bahwa iman itu adalah rasa, jadi kenalilah dirimu dengan rata, supaya dapat merasa dan melihat Allah dengan NYATA, adakah ini dapat terjawab oleh semua pencintanya?
============================
karena awal beragama adalah mengenal Allah, dan mengikut kaum sufi mengenal diri itu adalah mengenal Allah, diri mana yang harus dikenal jasad atau kah ruh? Sudah pasti jawabanNya ruh, dan ruh ini memanggil dirinya Aku, Aku inilah jawaban yang semestinya, karena Aku memberikan Hikmat kebijaksanaan kepada siapa saja yang Aku kehendaki
============================
Dan siapa saja yang Aku berikan hikmat itu maka sesungguhnya ia telah Aku berikan kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pelajaran ini melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya
============================
Karena tidak Aku ciptakan alam ini melainkan untuk Mu, telah Aku kurniakan akal agar engkau dapat memikirkan Aku, telah Aku kurniakan hati agar dapat engkau merasakan kehadiran Aku, telah Aku kurniakan pancaindera yang lima agar dapat engkau menyaksikan Aku
============================
Telah Aku kurniakan nafas agar engkau dapat menghirup bau ketenangan, telah Aku kurniakan mata agar dapat engkau melihat rupa Aku, telah Aku kurniakan telinga agar engkau dapat mendengarkan alunan suara Aku
============================
Apa lagi mahu mu wahai insan? Kenapa masih ada sangsi dalam hati mu? Kenapa masih engkau menafikan Aku? Telah Aku ciptakan sekaliannya untuk mu, Telah Aku sempurnakan kejadianmu
Masihkah kabur pandangan mata hati mu?
============================
Apa yang engkau nantikan tidak pernah pergi darimu, Apa yang engkau cari tidak pernah hilang dari dirimu, Pilihlah Aku sebagai Zat yang bertahta dihatimu, Demi NamaKu yang Agung, tiadalah zat yang wujud melainkan Zat Aku
============================
Demi matahari dan bulan, tiadalah yang lebih bersinar dari sinaran Diri Ku, Keluarlah engkau dari belenggu yang engkau tautkan pada dirimu sendiri
Kembalilah kepada Ku, Karena bukan engkau yang menanti, tapi Akulah yang menantimu
============================
Aku maha meliputi, tiada ruang dan waktu yang tak Aku liputi, didalam dirimu, tiada antara, antara engkau dan Aku, tak payah susah-susah, tak payah jauh-jauh, engkau mencari Aku, Aku sentiasa ada disini, dimana saja engkau menghadap maka yang menghadap itulah Aku
Mengenal Diri
Dan inilah satu risalah yg telah dibukakan bagiku pintu yg memberi faham didalam Sir akalku daripada Allah Azza Wajalla....
Dengan NamaKU yg bersifat Ar-Rahman dan yg bersifat Ar-Rahim, segala puji itu bagiKU Tuhan Pencipta sekalian alam. Bahawa sesungguhnya AKU ALLAH, tiada Tuhan yg disembah dengan sebenar-benarnya melainkan AKU, dan bahawa sesungguhnya Muhammad itu adalah hambaKU dan RasulKU yg AKU utuskan kepada sekalian makhlukKU
AKU-lah ALLAH,Dzat Yg Wajibul-Wujud Tuhan Pencipta sekalian alam. AKU-lah Dzat Yg Maha Tunggal, SediaKU tiada awal permulaan, KekalKU tiada akhir kesudahan. AKU Maha Hidup dan AKU Berdiri Sendiri, tiada sekutuKU sesuatu. AKU-lah Dzat Yg Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha IradatKU diatas segala sesuatu
AKU-lah As-Shomad tempat tumpuan, hajat sekalian makhlukKU. AKU tiada beranak dan tiada yg memperanakkan bagiKU. AKU Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu yg ghaib dan yg nyata, dan segala ilmu itu adalah ilmuKU.
AKU Maha Mendengar lagi Maha Melihat akan tiap-tiap sesuatu. AKU-lah Dzat Yg Berkata-kata, dan Sifat KalamKU itu kekal adanya,
bahawasanya AKU telah pun Berkata-kata dan sedang Berkata-kata dan lagi akan Berkata-kata dengan para hamba pilihanKU selama-lamanya
AKU bukanlah roh dan roh itu bukanlah DzatKU, sesungguhnya roh itu adalah ciptaanKU dan cermin tempat nyata WujudKU
Maha Suci AKU daripada menyamai sesuatu, Maha Suci AKU Tuhan Yg Maha Besar, Maha Suci AKU Tuhan Yg Maha Tinggi daripada sesuatu
Maha Suci AKU daripada pihak dan arah, Maha Suci AKU daripada berbentuk dan berupa yg kasar atau yg halus
Maha Suci AKU daripada dikandung dalam sesuatu atau diluar sesuatu, AKU tiada bertempat didalam ruang, dan AKU tiada suara yg berbunyi dan berhuruf, dan tiada AKU cahaya dan tiada AKU kilauan, warna dan getaran
Maha Suci AKU daripada disifatkan akan DzatKU, Maha Suci AKU daripada dibatasiKU oleh sesuatu
Maha Suci AKU daripada dapat dilihat oleh segala mata dan Maha Suci AKU daripada dapat dipandang oleh segala akal.Maha suci AKU dan Maha Agung AKU daripada dapat dicapai oleh sesuatu, Maha Suci AKU, Maha Rahsia AKU yg tersembunyi SendiriKU
Maha Suci AKU dengan QahharKU yg tiada Kuasa seseorang pun menolakkan segala tadbirKU dan tiada Kuasa keluar daripada segala takdirKU, dan AKU berbuat apa yg AKU Kehendaki, dan tiada sesuatu pun yg dapat menahanKU.
Maha Suci AKU daripada dipersoalkan, apakah?dimanakah?mengapakah?bilakah?bagaimanakah? Dan sesungguhnya AKU tidak dapat ditanya oleh sesuatu.
Al-LatifKU ialah KelembutanKU, dan KeelokkanKU, dan KehalusanKU, dan KeundahanKU, dan KeluhuranKU, dan KetersembunyianKU didalam tiap-tiap sesuatu.
Dan tiada yg menjadikan manfaat dan mudarat, kurnia dan tegah, gerak dan diam, daya dan upaya melainkan AKU-lah yg Zahir, dan tiada yg dapat membinasakan sesuatu melainkan AKU, dan tiada yg memberi rezeki kepada tiap-tiap makhlukKU melainkan AKU.
Ka'abah ialah rumahKU dibumi, dan Arasy ialah rumahKU dilangit dan adapun rumahKU yg hakiki itu ialah Sir hambaKU yg telah AKU sucikan ia daripada selainKU.
Maha Suci AKU daripada berhubung dan bercerai dengan sesuatu, Maha Suci AKU daripada segala sifat kekurangan, dan AKU-lah Dzat Yg Maha Besar sifat KamalatKU yg tidak dapat dikira akan bilangannya.
AKU adalah perbendaharaan yg tersembunyi, dan AKU suka bahawa AKU dikenali, maka AKU jadikan makhluk untuk mengenaliKU.
Dan telah adalah AKU dan tiada sesuatu sertaKU, dan segala sesuatu binasa melainkan AKU, dan AKU sekarang seperti mana AKU dahulu jua, Maha Esa dengan KeEsaanKU.
Tiada AKU berkehendak kepada sesuatu dan berkehendak tiap-tiap sesuatu kepadaKU
Dan AKU-lah yg menentukan Qadar bagi tiap-tiap sesuatu dan telah selesailah segala IradatKU, dan tiada perubahan bagi takdirKU, tiada pengubah terhadap hukumanKU, dan tiada hukum(undang-undang) melainkan hukum-hukumKU, AKU-lah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
Sesungguhnya tiada Tuhan melainkan AKU Yg Maha Esa, tiada sekutu bagiKU sesuatu, bagiKU semua kerajaan dan bagiKU segala Kepujian, dan AKU diatas segala sesuatu Amat Kuasa
Maka AKU-lah Dzat Yg disembah disetiap zaman dan disetiap tempat
AKU-lah Dzat Yg Awal tiada permulaan adaKU dan AKU-lah Yg Akhir tiada kesudahan WujudKU, dan AKU-lah Yg Zahir dan telah nyata KudratKU dan IradatKU dan AKU-lah Yg Batin, DzatKU Yg Mahasuci yg terselimut ghaib didalam keghaiban yg Mutlak selama-lamanya
Dan tiada yg Wujud dengan sebenar-benarnya didalam sekalian alam ini melainkan WujudKU, AKU-lah Dzat yg Maha Esa, Maha Tunggal, Mahasuci dan Maha Tinggi AKU, dan tiada sesuatu yg seumpama AKU ( LAISA KAMISTLIHI SYAIUN ), AKU ALLAH, Al-Khaliq. Maha Benarlah AKU, Tuhan Yg Maha Agung....
- BUTA SELAIN DZAT ALLAH-
JALAN FANAFILLAH
Pertama : TAUHIDUL AF'AL
Kedua : TAUHIDUL SIFAT
Ketiga : TAUHIDUL ASMA
Keempat : TAUHIDUL ZAT
Dan suatu riwayat mengatakan sebagai berikut :
FANA'IL AF'AL FANA'IL SIFAT dan FANA'IL ZAT. . .
Adapun Tauhidul AF'AL itu seperti engkau kata ;
LAFA'LUN ILLA FI’LULLAH,
Artinya :
"tiada mempunyai perbuatan melainkan semata perbuatan Allah Ta'ala jua didalamnya (Hakikatnya)".
Adapun Tauhidul SIFAT itu yakni seperti engkau kata, dan engkau i'tikatkan didalam hatimu :
IA KUDRAT, IRADAT, ILMU, HAYAT, SAMA, BASHAR, KALAM,
Artinya ;
"Tiada mempunyai Kuasa, Berkehendak, Tahu, Hidup, Mendengar, Melihat dan Berkata-Kata.
Melainkan kesemuanya itu daripada Allah Ta'ala jua pada hakikatnya".
Adapun Tauhidul DZAT itu seperti engkau kata engkau I'tikatkan didalam hatimu ;
LA MAUJUDA ILLALLAH,
Artinya :
"Tiada yang Ujud didalam Alam ini melainkan Allah Ta'ala semata-mata pada Hakikatnya",
kerana sekalian Alam (Ujud alam) ini tiada Maujud sendirinya, tetapi berdiri Ujud kepada Ujud Allah aza wazalla.
Keempat dalil Shuhudul Kasyrah, seperti telah diuraikan terdahulu, iaitu Pandang Yang Banyak Didalam Satu dan Pandang Yang Satu Didalam Yang Banyak.
Maka pandang itu olehmu dengan bahwasannya Ujud sekalian Alam ini berdiri kepada Ujud Allah Ta'ala, Tiada Maujud sendirinya dan Pandang olehmu bahwasannya Allah Ta'ala itu Maujud didalam sesuatu yang Maujud maka disertakan Pandangmu itu dengan Pandang.
"Pandang Rahsia Didalam Hati"
Bukan pandang yang dibangsakan dengan perkataan dan lafad itu tiada memberi faedah.
Artinya pandang olehmu bahwasannya Allah Ta'ala itu Maujud ia didalam tiap-tiap sesuatu Ujud, Yaitu pandang HAWIYAHNYA QIYAUMAHNYA dan KUDRATNYA serta kebesarannya dan tiada diambil tempat dan Allah Ta'ala itu tiada menjadi rupa sesuatu,
Kerana Allah Ta'ala
LAISAKAMISLIHI SYAI’UN WAHUWASSAMI’UL BASHIR
Artinya ; "Tiada menyamai Allah Ta'ala itu sesuatu juapun dan ia amat mendengar lagi amat melihat akan segala pekerjaan baik yang zahir mahupun yang bathin".
Dan lagi ketahui olehmu bahwasanya sesungguhnya keadaan kita itu tetap selama-lamanya didalam ILMU ALLAH TA'ALA jua, demikianlah sebenar-benarnya I'tikad kita, maka itulah I'tikad sekalian para Nabi-Nabi Allah, sekalian wali Allah dan I'tikad sekalian yang Sholih-Sholih maka janganlah kita ubah daripadaI'tikad ini, supaya sampai kepada jalan
FANAFILLAH dan BAQABILLAH,
Artinya ; GHAIP KITA DIDALAM ALLAH TA'ALA dan KEKAL ADANYA DENGAN ALLAH TA'ALA.
- - - - - - -
Adapun Artinya GHAIP itu ialah HAPUS, hapus itu tiada lagi kelihatan ZAT kita, kecuali ZAT Allah Ta'ala semata.
Begitulah hendaknya I'tikad dan pandang kita, umpamanya seperti ombak ia bernama ombak atau laut sebab ia bernama laut, tetapi pada hakikatnya adalah daripada AIR jua. Maka itu namanya tiga hakikat tetapi berasal daripada satu jua. Umpamanya seperti besi didalam Api, maka hilanglah besi itu oleh api, tiada kelihatan lagi ujud besinya, hanya keadaan api itulah yang kelihatan semata, zatnya, sifatnya dan Af'alnya. Maka apabila ditetapkan keadaan itu dan dikeraskan didalam keadaan kita, nescaya hilanglah keadaan kita itu, maka tiada lagi dan sampailah kita kepada jalan fanafillah dan baqabillah, maka apabila kita tidur terlihatlah oleh kita dialahnya pada bertemu.
TUDIBBUL BADANI HAJJA ALA QALBI,
"hancurlah badan jadilah hati".
TUDIBUL QALBI SHARARROHI,
"hancurkan hati jadikan roh".
TUDIBURROHI SHARANNURU,
"hancurkan roh jadikan Cahaya",
Ialah AKU ALLAH (dalam Diam). Aku yang sebenarnya Rahsia MARKUM MANUSIA didalam hatimu itu.
Adapun hati manusia itu umpama cermin, maka apabila ditilik didalamnya, maka kelihatanlah itu Tuhan-nya, daripada Rahsia-nya, kerana rupa kita yang bathin itulah yang diakui Allah Rupa Daripada Rahsia-nya,
kerana dalil menyatakan yang Artinya ;
"Insan itu Rahsiaku, Rahsiaku itu Sifatnya, sifatnya itu Tiada lain daripada Ujud AKU Yang wajib Ujud Adanya".
ALQALBUHAYATI SYIRRI ANA ILLA ANA,
Artinya ; "Didalam Akal itu Hati, didalam Hati itu Roh, didalam Roh itu Sirr, didalam Sirr itu AKU".
AKU RAHSIA SEGALA MANUSIA AKU RAHSIA SEGALA MANUSIA DIDALAM HATI.
Ketahui olehmu hai Shaleh. Inilah orang yang sebenar-benarnya mengenal Allah Ta'ala seperti ;
MAN ARAFALLAHU FAHUWA ALLAH,
Yakni barang siapa mengenal Allah iaitu bernama Allah Muhammad.
Muhammad Allah Hakikatnya (Tunggal)
BUTA SELAIN DZAT ALLAH
Selasa, 1 Ogos 2017
SELAWAT NABI, RUKUN DAN SYARAT DOA TERKABUL
Imam Al-Qasthalani dalam kitab Masalik Al-Hanfa mengatakan, “Sebagian ulama berkata: ‘Jika harapan-harapanmu sukar terpenuhi, maka perbanyaklah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.”
Al-‘Arif billah Sayyid Muhammad bin Umar Al-Qashri mengatakan, “Membaca selawat atas Nabi Muhammad SAW adalah sebuah keharusan bagi para salik di awal perjalanan spiritualnya, dan terus-menerus membaca selawat baik siang maupun malam. Selawat dapat menjadi penolongnya selama menempuh perjalanan spiritual dan meraih kedekatan kepada Allah SWT dibandingkan dengan macam dzikir yang lain.Selawat juga merupakan kunci untuk membuka pintu hidayah menuju Allah SWT. Sebab Nabi Muhammad SAW adalah perantara (washilah) antara kita dengan Allah; penunjuk jalan bagi kita menuju kepada-Nya; orang yang memperkenalkan kita kepada-Nya.
Maka, bergantung kepada perantara adalah lebih utama daripada langsung kepada dzat yang dituju. Karena, perantara adalah faktor utama bagi kita untuk bisa berhubungan dengan Tuhan yang Mahaagung dan Mahakuasa; kunci utama untuk masuk ke tempat-tempat yang berada di dekat dengan-Nya. Nabi Muhammad SAW adalah perantara (washilah) antara makhluk dan Tuhan.”
Menurut Imam Al-Qasthalani, “Ketahuilah, tak mungkin mampu mencontoh perbuatan dan akhlak Nabi kecuali dengan usaha keras, tidak mungkin mau berusaha dengan keras kecuali sangat cinta kepada Nabi, dan tidak mungkin cinta mati kepada Nabi kecuali dengan cara memperbanyak bacaan selawat. Sebab, barangsiapa yang suka pada sesuatu, maka dia akan sering menyebut-nyebutnya.
Karena itu, bagi seorang salik, ia mesti memulai jalan spiritualnya dengan memperbanyak bacaan selawat atas Nabi Muhammad SAW. Mengingat bacaan selawat menyimpan keajaiban-keajaiban luar biasa dalam rangka pembersihan jiwa dan penerangan batin, di samping masih banyak lagi rahasia-rahasia dan faedah-faedah yang tidak mungkin dihitung oleh angka dan bilangan.
Seorang salik, perlu memiliki hati yang ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah ketika membaca selawat atas Nabi sehingga dia mampu memetik buah selawat dan barokahnya yang bertebaran. Selawat di sepanjang jalan mencari Tuhan bagaikan lampu penerang yang dapat menjadi hidayah yang diperlukan. Barangsiapa yang menghiasi kalbunya dengan lampu shalawat, maka dia akan mampu melihat segala hakikay tauhid berkat cahaya terang selawat tersebut.”
Rasulullah SAW bersabda, “Semua doa tertolak, kecuali dia membaca selawat untuk Muhammad dan keluarganya,” Hadis ini diriwayakan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Awsath, dan dari Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, ia berkata: “Setiap doa pasti terhalangi oleh sebuah tabir antara pemohon doa dan Allah. Kecuali orang itu membaca selawat, maka tabir tersebut akan terbakar, dan doa itu akan menembusnya. Jika orang itu tidak membaca selawat, maka doanya akan terpental.”
Dalam kitab Asy-Syifa dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata: “Jika di antara kalian ada yang mengharapkan sesuatu dari Allah, maka hendaklah memulai doanya dengan puja dan puji kepada-Nya, disusul dengan membaca selawat atas nabi-Nya, baru kemudian menyampaikan hajatnya (harapan). Hal yang demikian ini lebih berpeluang besar untuk terkabulkan.”
Al-Qadhi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Al-Husaini r.a. berkata, “Ibnu ‘Atha berkata, ‘Doa memiliki rukun-rukun tertentu, sayap-sayap, sebab-sebab, dan waktu-waktu khusus. Jika memenuhi rukun-rukunnya maka doa itu akan menjadi kuat. Jika memiliki sayap-sayap maka ia akan terbang ke langit. Jika tepat waktunya maka ia akan berjalan terus. Dan jika memenuhi sebab-sebab maka doa itu akan terkabulkan.
Rukun-rukun doa adalah hati yang khusyuk, konsentrasi, lembut, pasrah diri, bergantung sepenuhnya kepada Allah, dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada faktor apa pun (selain Allah). Sayap-sayap doa adalah ketulusan dan kejujuran. Waktu berdoa adalah di malam hari. Sebab-sebabnya adalah membaca selawat atas Nabi Muhammad SAW.”
--As-Safinah Al-Qadiriyah Li Asy-Syaikh ‘Abd Qadir Al-Jailani Al-Hasani
Al-‘Arif billah Sayyid Muhammad bin Umar Al-Qashri mengatakan, “Membaca selawat atas Nabi Muhammad SAW adalah sebuah keharusan bagi para salik di awal perjalanan spiritualnya, dan terus-menerus membaca selawat baik siang maupun malam. Selawat dapat menjadi penolongnya selama menempuh perjalanan spiritual dan meraih kedekatan kepada Allah SWT dibandingkan dengan macam dzikir yang lain.Selawat juga merupakan kunci untuk membuka pintu hidayah menuju Allah SWT. Sebab Nabi Muhammad SAW adalah perantara (washilah) antara kita dengan Allah; penunjuk jalan bagi kita menuju kepada-Nya; orang yang memperkenalkan kita kepada-Nya.
Maka, bergantung kepada perantara adalah lebih utama daripada langsung kepada dzat yang dituju. Karena, perantara adalah faktor utama bagi kita untuk bisa berhubungan dengan Tuhan yang Mahaagung dan Mahakuasa; kunci utama untuk masuk ke tempat-tempat yang berada di dekat dengan-Nya. Nabi Muhammad SAW adalah perantara (washilah) antara makhluk dan Tuhan.”
Menurut Imam Al-Qasthalani, “Ketahuilah, tak mungkin mampu mencontoh perbuatan dan akhlak Nabi kecuali dengan usaha keras, tidak mungkin mau berusaha dengan keras kecuali sangat cinta kepada Nabi, dan tidak mungkin cinta mati kepada Nabi kecuali dengan cara memperbanyak bacaan selawat. Sebab, barangsiapa yang suka pada sesuatu, maka dia akan sering menyebut-nyebutnya.
Karena itu, bagi seorang salik, ia mesti memulai jalan spiritualnya dengan memperbanyak bacaan selawat atas Nabi Muhammad SAW. Mengingat bacaan selawat menyimpan keajaiban-keajaiban luar biasa dalam rangka pembersihan jiwa dan penerangan batin, di samping masih banyak lagi rahasia-rahasia dan faedah-faedah yang tidak mungkin dihitung oleh angka dan bilangan.
Seorang salik, perlu memiliki hati yang ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah ketika membaca selawat atas Nabi sehingga dia mampu memetik buah selawat dan barokahnya yang bertebaran. Selawat di sepanjang jalan mencari Tuhan bagaikan lampu penerang yang dapat menjadi hidayah yang diperlukan. Barangsiapa yang menghiasi kalbunya dengan lampu shalawat, maka dia akan mampu melihat segala hakikay tauhid berkat cahaya terang selawat tersebut.”
Rasulullah SAW bersabda, “Semua doa tertolak, kecuali dia membaca selawat untuk Muhammad dan keluarganya,” Hadis ini diriwayakan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Awsath, dan dari Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, ia berkata: “Setiap doa pasti terhalangi oleh sebuah tabir antara pemohon doa dan Allah. Kecuali orang itu membaca selawat, maka tabir tersebut akan terbakar, dan doa itu akan menembusnya. Jika orang itu tidak membaca selawat, maka doanya akan terpental.”
Dalam kitab Asy-Syifa dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata: “Jika di antara kalian ada yang mengharapkan sesuatu dari Allah, maka hendaklah memulai doanya dengan puja dan puji kepada-Nya, disusul dengan membaca selawat atas nabi-Nya, baru kemudian menyampaikan hajatnya (harapan). Hal yang demikian ini lebih berpeluang besar untuk terkabulkan.”
Al-Qadhi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Al-Husaini r.a. berkata, “Ibnu ‘Atha berkata, ‘Doa memiliki rukun-rukun tertentu, sayap-sayap, sebab-sebab, dan waktu-waktu khusus. Jika memenuhi rukun-rukunnya maka doa itu akan menjadi kuat. Jika memiliki sayap-sayap maka ia akan terbang ke langit. Jika tepat waktunya maka ia akan berjalan terus. Dan jika memenuhi sebab-sebab maka doa itu akan terkabulkan.
Rukun-rukun doa adalah hati yang khusyuk, konsentrasi, lembut, pasrah diri, bergantung sepenuhnya kepada Allah, dan melepaskan diri dari ketergantungan kepada faktor apa pun (selain Allah). Sayap-sayap doa adalah ketulusan dan kejujuran. Waktu berdoa adalah di malam hari. Sebab-sebabnya adalah membaca selawat atas Nabi Muhammad SAW.”
--As-Safinah Al-Qadiriyah Li Asy-Syaikh ‘Abd Qadir Al-Jailani Al-Hasani
Khamis, 27 Julai 2017
RAHASIA LISAN DAN HATI PARA WALI
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam meraih derajat makrifatullah, karena engkau akan menyelam bersama-Nya, kokoh dengan keteguhan diri menuju kepada Allah, serta dengan ilmu-Nya engkau menuju kepada-Nya.
Perkataanmu adalah cermin hatimu. Lisanmu adalah penerjemah hatimu. Jika hati seseorang bercampur-baur banyak perkara, maka dia kadang berkata benar dan kadang berkata salah. Dia tidak dapat mengubah apa yang tersembunyi dalam hati. Jika hati seseorang telah terbebas dari syirik, maka lisannya akan lurus dan benar. Jika dia bersekutu dan mengikuti sifat makhluk, maka dia dapat berubah, terpeleset dan berdusta.
Karena itu, di antara para pembicara, ada orang-orang yang berbicara dari hatinya, ada pula yang berbicara dari rahasianya, dan bahkan ada yang berbicara dari hawa nafsu, setan dan kebiasaan buruknya.
Jika engkau mencintai atau membenci seseorang, janganlah cinta dan bencimu berlandaskan hawa nafsu dari tabiat burukmu, tapi ukurlah dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika apa yang engkau cintai sesuai, maka cintailah terus menerus. Demikian pula jika kau membenci pada seseorang. Jika kebencianmu tidak mendatangkan manfaat, maka dekatilah hati orang-orang shaleh dan bertanyalah kepada mereka. Karena hatinya adalah kebenaran. Jika hatinya benar, maka dia akan benar di sisi Allah. Jika hati beramal dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia akan menjadi dekat kepada-Nya, serta akan mengetahui hak dan kewajibannya sendiri. Dia tahu apa yang harus ditunaikan untuk Allah dan apa yang harus dilakukan kepada sesuatu selain-Nya.
Jika seorang Mukmin saja mampu memiliki cahaya yang menerangi penglihatannya, apalagi orang-orang yang benar (Shiddiq) dan dekat kepada Allah. Orang Mukmin memiliki cahaya yang digunakan untuk memandang sesuatu, karena Nabi telah memperingatkan tentang ketajaman penglihatannya. Rasulullah SAW bersabda, “Takutlah kepada firasat orang Mukmin, karena dia melihat dengan cahaya Allah.”
Orang yang ‘arif dan dekat kepada Allah, juga diberi cahaya sehingga dapat melihat kedekatan antara dirinya dengan Allah. Dia mampu melihat ruh para malaikat, nabi, hati dan ruh orang-orang shiddiq , serta melihat keadaan dan kedudukan mereka. Selamanya dia bergembira bersama Allah. Dia berpisah dengan makhluk. Di antara mereka ada yang lisan dan hatinya mengetahui. Ada pula yang hatinya mengetahui dan lisan menjadi juru bicaranya. Sedangkan orang munafik, lisannya mengetahui, namun hatinya gagap. Semua ilmunya hanya di mulut saja, sedangkan hatinya buta.”
–Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Fath Ar-Rabbani wa al-Faidh ar-Rahmani
Langgan:
Catatan (Atom)
-
Setelah memaklumi bahwa lailatul qadr berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, tentu seorang hamba harus mempersiapkan dirinya dengan...
-
"Jika engkau telah berusia empat puluh tahun, maka segeralah untuk memperbanyak amal shaleh siang maupun malam. Sebab, waktu pertemuanm...
-
Definisi dan Urgensi Makrifat Salah satu unsur terpenting dari keimanan adalah makrifat (mengenal) terhadap semua hal yang ber...




